Kamis (2/4/26), SMP Persada Insan Nusantara Sokaraja menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan di Sekolah dengan tema “Mengenali Batasan Diri dan Persetujuan”. Pada kegiatan ini Ketua TPPK SMP Perantara, Riska Widiyanti, M.Sos., sebagai narasumber dan diikuti oleh seluruh warga sekolah, khususnya siswa.
Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya mengenali batasan diri (personal boundaries) serta konsep persetujuan (consent). Selain itu, siswa juga dibekali keterampilan untuk mampu menetapkan batasan diri secara sehat, menghargai batasan orang lain, serta memiliki keberanian untuk mengatakan “tidak” ketika diperlukan, sekaligus belajar menerima penolakan dengan sikap yang bijak.
Dalam pemaparannya, Bu Riska menjelaskan berbagai jenis batasan diri yang perlu dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis-jenis tersebut meliputi batasan emosional (perasaan), batasan material (barang milik pribadi), batasan waktu, batasan intelektual (ide atau pendapat), batasan digital, hingga batasan seksual. Beliau juga menguraikan tiga tipe batasan diri, yaitu batasan kaku, batasan longgar, dan batasan sehat. Para siswa diimbau untuk mampu mengenali serta menerapkan batasan diri yang sehat sebagai bentuk perlindungan diri sekaligus penghormatan terhadap orang lain.
Selain itu, materi tentang persetujuan juga disampaikan secara jelas dan aplikatif. Siswa diajak untuk memahami bahwa setiap interaksi membutuhkan persetujuan, serta dilatih melalui praktik sederhana untuk menyampaikan penolakan secara tegas namun tetap sopan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai.
Agar suasana lebih interaktif dan menyenangkan, kegiatan juga diselingi dengan ice breaking yang relevan dengan tema, seperti menyanyikan lagu “Area Privasiku” dan berbagai permainan edukatif lainnya. Hal ini membuat siswa lebih mudah memahami materi sekaligus terlibat aktif dalam kegiatan.
Sebagai penutup, seluruh warga sekolah—baik siswa, guru, maupun karyawan—melakukan refleksi bersama yang dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi anti kekerasan. Deklarasi tersebut kemudian dipasang di lingkungan sekolah sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus penanda suksesnya acara tersebut.