SOKARAJA – Komitmen untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terus diperkuat oleh SMP Persada Insan Nusantara Sokaraja bersama Pondok Pesantren Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja. Hal tersebut diwujudkan melalui rapat koordinasi bersama yang dilaksanakan pada Rabu (16/07/2026) di Ruang Rapat SMP Persada Insan Nusantara Sokaraja.
Pertemuan ini dihadiri oleh unsur sekolah dan pondok pesantren, di antaranya Guru Bimbingan dan Konseling (BK), Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) mewakili pihak sekolah, serta para asatidz dan asatidzah Pondok Pesantren Abdul Djamil. Rapat menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendampingi peserta didik yang menjalani pendidikan formal sekaligus kehidupan di lingkungan pesantren.
Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah pembahasan mengenai upaya membangun sekolah dan pondok pesantren yang aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal. Dalam diskusi, peserta rapat membahas implementasi 7 KAIH sebagai budaya bersama yang diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang positif, tertib, dan kondusif bagi seluruh warga sekolah maupun santri.
Selain itu, rapat juga membahas pembagian tugas pokok dan fungsi (tupoksi) serta Standar Operasional Prosedur (SOP) antara pihak sekolah dan pondok pesantren. Penyusunan peran yang jelas diharapkan mampu memperkuat koordinasi dalam pembinaan peserta didik sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan, sekaligus meningkatkan efektivitas pelayanan pendidikan.
Dalam pembahasan manajemen kepesantrenan, peserta rapat turut mengevaluasi sistem pembinaan santri, termasuk penguatan peran *pembina kamar* sebagai garda terdepan dalam melakukan pendampingan, pengawasan, serta pembinaan karakter santri di lingkungan asrama. Peran pembina kamar dinilai sangat penting karena menjadi sosok yang berinteraksi langsung dengan santri dalam kehidupan sehari-hari dan mampu mendeteksi berbagai permasalahan sejak dini.
Berbagai problem dan tantangan yang dihadapi santri juga menjadi perhatian bersama dalam rapat tersebut. Mulai dari pembentukan kedisiplinan, pembiasaan karakter positif, adaptasi santri terhadap kehidupan pesantren, hingga tantangan perkembangan remaja di era digital dibahas secara terbuka untuk mencari solusi yang tepat melalui sinergi antara sekolah dan pondok.
Kepala SMP Persada Insan Nusantara Sokaraja, Mohammad Husain, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa sekolah dan pondok harus memiliki keberanian untuk terus melakukan perubahan demi menghadirkan layanan pendidikan yang semakin berkualitas.
"Sekolah dan pondok harus berani melakukan perubahan, terutama dalam membangun kebiasaan-kebiasaan baik bagi peserta didik. Kita juga harus bersama-sama mencegah segala bentuk tindak kekerasan, baik perundungan (bullying), kekerasan seksual, maupun bentuk kekerasan lainnya. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang," tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa peningkatan mutu layanan pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah dan pondok dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta memberikan perlindungan kepada seluruh peserta didik.
Melalui sinergi yang semakin kuat antara sekolah dan pondok pesantren, diharapkan setiap program pembinaan dapat berjalan secara terpadu sehingga mampu membentuk karakter santri yang disiplin, berakhlak mulia, mandiri, serta memiliki rasa aman selama menjalani proses pendidikan.
Sebagai bentuk komitmen bersama, rapat koordinasi ini tidak hanya dilaksanakan sebagai agenda insidental, tetapi akan menjadi program koordinasi rutin antara SMP Persada Insan Nusantara Sokaraja dan Pondok Pesantren Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja. Evaluasi terhadap pelaksanaan program akan dilakukan setiap bulan guna memastikan seluruh kebijakan, pembagian tugas, serta langkah-langkah pembinaan berjalan secara optimal. Dengan evaluasi yang berkelanjutan, sekolah dan pondok berharap dapat terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang ramah anak, bebas dari kekerasan, dan berorientasi pada pembentukan karakter, sehingga mampu mencetak generasi yang unggul, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan masa depan.